• Sen. Sep 28th, 2020

Goldstone-report.org

Informasi Berita Dalam Pemerintahan Terkini

Denny Siregar: Seharusnya Si Aburizal Bakrie Ditahan Loh!

ByTheach

Agu 12, 2020

Bila ini perbuatan korupsi, seharusnya Aburizal Bakrie juga ditahan sebab turut serta dalam kerugian besar Jiwasraya.

Kasus Jiwasraya ini kian kompleks justru kian menarik bagi saya. Terpenting setelah Kejaksaan Agung menarik kasus Jiwasraya ini ke ranah korupsi, dengan mewujudkan para Direksi Jiwasraya dan para pemain saham sebagai tersangka koruptor.

Setelah saya mencoba mengikuti kasus Jiwasraya, saya jadi sedikit bimbang. Problem Jiwasraya ini hakekatnya benar situasi sulit korupsi atau kasus rugi investasi sih?

Pengertian korupsi adalah dikala seseorang menggunakan jabatannya untuk menarik keuntungan bagi dirinya sendiri yang merugikan orang lain. Contoh, saya sebagai Direktur dipercaya perusahaan mengelola uang sebesar Rp 1 miliar untuk diinvestasikan ke saham umpamanya. Nah, dari uang Rp 1 miliar itu, saya colong Rp 100 juta untuk kepentingan saya pribadi dan sisanya Rp 900 juta baru saya investasikan ke saham. Itu berarti saya korupsi Rp 100 juta. Ketahuan, dan saya dicokok.

Namun berbeda dikala saya dipercaya perusahaan untuk mengelola uang Rp 1 miliar dan saya investasikan semuanya ke saham, rupanya saham itu rugi dan uang perusahaan yang tadinya sebesar Rp 1 miliar jadi anjlok ke angka Rp 200 juta saja. Itu bukan korupsi, itu namanya kerugian investasi. Mengerti, bedanya kan?

Jiwasraya hakekatnya seperti itu. Mereka sudah rugi semenjak tahun 1998, dikala krisis ekonomi. Mengapa rugi? Sebab mereka dahulu pede, cari investasi dari nasabah dalam bentuk dollar namun diinvestasikan ke usaha dalam bentuk rupiah. Nah, dikala dollar pada tahun 1998 membumbung dari Rp 2000 per 1 dollar, menjadi Rp 20.000, ya Jiwasraya langsung rugi besar. Mereka tetap seharusnya bayar preminya ke nasabah yang investasi ke mereka dalam bentuk dollar, padahal hasil investasi yang mereka terima dalam bentuk rupiah.

Nah, ini yang dimaksud kerugian investasi, bukan korupsi.

Sebab rugi besar dan tetap seharusnya mengembalikan investasi uang nasabahnya, Jiwasraya kesudahannya ambil cara extraordinary atau cara yang luar lazim. Mereka kian gencar cari uang nasabah, dengan iming-iming bagi hasil yang tinggi agar nasabah tertarik, lalu uang nasabah itu mereka investasikan ke saham yang mereka pikir kesudahannya dapat tinggi. Mereka berharap dengan uang nasabah Rp 100 dan nasabah dikasih keuntungan 10 %, mereka tanamkan di saham gorengan dan berharap dapat keuntungan sampai 5000 %.

Dan cara seperti itu dapat didapatkan dengan membeli saham gorengan, bukan blue chips yang bagi kesudahannya rendah namun aman.

Namun tak beruntungnya, bukannya dapat untung gede dari hasil main saham, malahan zonk! Saham yang mereka beli gunakan uang nasabah, rupanya jeblok. Jadinya Jiwasraya yang tadinya sudah punya utang besar, utangnya jadi kian besar.

Bila disebut korupsi, seharusnya bukan Benny Tjokro dan kawan-kawannya saja yang dicokok, sebab Jiwasraya juga sebelum ketemu Benny sudah berinvestasi ke banyak pihak dan rugi besar. Seharusnya Aburizal Bakrie selaku pemilik kelompok usaha Bakrie juga ditahan sebab turut serta dalam kerugian besar Jiwasraya.

Nah, bagaimana mencari cara agar dapat bayar utang cicilan terhadap nasabah? Ya, berutang lagi ke nasabah lain dan investasi ke saham gorengan lagi. Dan zonk lagi.

Itu terus seperti lingkaran setan, yang kesudahannya Jiwasraya umumkan gagal bayar terhadap nasabah. Ribuan nasabah panik, meminta uang investasinya kembali bersamaan. Lantas rush. Makin jebloklah Jiwasraya.

Salah satu contoh bagaimana membeli saham dan rugi, adalah peristiwa saham BUMI.

Dulu tahun 2006 saham PT Bumi Resources Tbk, salah satu grup perusahaan Bakrie, adalah saham primadona. Harga saham BUMI sempat melonjak ke angka Rp 8.000-an per lembar saham. Banyak yang untung dikala main saham ini, namun jauh lebih banyak yang buntung.

Bahkan ada kisah sedih seorang ibu yang menggadaikan rumah satu-satunya ke bank, hanya sebab nafsu pengen beli saham BUMI ini. Dia pengen dapat untung besar sebab harga saham BUMI terus naik. Uang hasil gadai rumah itu dibelikan saham BUMI justru dikala harga saham itu sedang tinggi-tingginya. Dan dikala si ibu itu beli, para pemain gorengan justru menjual saham-saham mereka sebab sudah dapat banyak cuan. Lantas harga saham BUMI anjlok dari Rp 8000 per lembar saham dan sekarang cuman tinggal Rp 50 dan diketahui dengan nama saham gocap.

Nangis enggak tuh si ibu?

Mirip dengan apa yang dilakukan Jiwasraya.

Sebab sudah rugi pada krisis 98, Jiwasraya malahan berdaya upaya untuk mengembalikan uang nasabah dengan mencari saham-saham yang punya potensi menerima cuan tinggi, padahal mereka tahu risikonya juga tinggi.

Sebelum masuknya Benny Tjokro dan kawan-kawan, Jiwasraya sudah banyak berinvestasi di saham, termasuk saham-saham perusahaan Bakrie dan salah satunya adalah saham BUMI. Tahun 2008, saham-saham yang ditanam Jiwasraya anjlok segala sebab krisis ekonomi jilid 2. Makin besar lah utang Jiwasraya dan makin susah lah mereka membayar utang terhadap nasabah.

Inilah yang menjadi situasi sulit utama dalam kasus Jiwasraya ini, apakah ini perbuatan korupsi atau hakekatnya hanya kerugian investasi?

Walhasil tahun 2013, terbitlah produk JS Saving Plan. Maksud dari JS Saving Plan ini adalah mencari dana dari nasabah dengan iming-iming bagi hasil yang tinggi. Dengan produk JS Saving Plan, Jiwasraya kemudian mendapatkan dana segar untuk bermain investasi lagi, tujuannya mengembalikan utang terhadap nasabah yang sudah terlanjur besar sebab salah memilih instrumen investasi. Produk JS Saving Plan ini dapat dibilang menjadi produk unggulan Jiwasraya untuk mengabsorpsi dana dari masyarakat.

Nah dengan dana segar itu, Jiwasraya kemudian berjumpa dengan Benny Tjokro dan kawan-kawan. Jiwasraya berharap dengan Benny Tjokro, mereka dapat dapat cuan gede untuk menutup lubang besar yang sudah parah di dalam tubuh Jiwasraya. Kerja sama berlanjut, Jiwasraya menginvestasikan duit besar lagi ke Benny Tjokro. Jiwasraya berharap dengan beli saham gorengan melalui bantuan Benny Tjokro mereka dapat untung besar.

Walhasil? Zonk lagi.

Begitulah contoh gali lubang tutup lubang yang dilakukan Jiwasraya sampai kesudahannya mereka mengumumkan gagal bayar terhadap nasabah. Nasabah panik dengan pengumuman itu, lalu berebut berharap menarik uangnya di Jiwasraya. Sebab tak cakap membayar uang besar terhadap nasabah yang menarik secara bersamaan, Jiwasraya malahan ambruk.

Itu cerita singkatnya, agar kita yang lazim paham bagaimana Jiwasraya kesudahannya rugi sampai 16 triliun rupiah, dan ribuan nasabah yang tanam duit di sana dalam program JS Saving Plan langsung nangis darah.

Pertanyaannya, apakah ini masuk dalam ranah korupsi atau hakekatnya ini hanya dianggap kerugian investasi?

Bila disebut korupsi, seharusnya bukan Benny Tjokro dan kawan-kawannya saja yang dicokok, sebab Jiwasraya juga sebelum ketemu Benny sudah berinvestasi ke banyak pihak dan rugi besar. Seharusnya Aburizal Bakrie selaku pemilik kelompok usaha Bakrie juga ditahan sebab turut serta dalam kerugian besar Jiwasraya.

Setidaknya ada 4 perusahaan Bakrie daerah Jiwasraya investasi dan rugi. Mereka adalah PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Apakah benar kata Benny Tjokro bahwa ia sengaja dikorbankan untuk menutupi kerugian Jiwasraya yang sudah semenjak lama? Bila Benny Tjokro seharusnya dicokok sebab membuat Jiwasraya rugi, seharusnya segala pihak termasuk Aburizal Bakrie dan segala manajer investasi yang berkaitan dengan Jiwasraya, seharusnya juga dicokok. Bila Benny Tjokro dituduh korupsi, berarti segala yang terlibat termasuk Bakrie juga seharusnya dituduh korupsi.

Inilah yang menjadi situasi sulit utama dalam kasus Jiwasraya ini, apakah ini perbuatan korupsi atau hakekatnya hanya kerugian investasi?

Sementara dari pihak nasabah tak berharap tahu, bagi mereka Jiwasraya seharusnya bertanggung jawab mengembalikan uang yang mereka tanam di sana, siapa malahan pelakunya.

Banyak nasabah Jiwasraya yang seperti contoh ibu yang membeli saham BUMI itu, tergiur sebab iming-iming bagi hasil yang tinggi yang disangka dapat menjadi investasi yang menguntungkan dan terakhir mereka menyesal sebab kesudahannya buntung yang didapatkan.

Aku sendiri sekiranya bermain investasi, pasti sadar, sekiranya pengin dapat untung gede seharusnya paham bahwa risikonya juga gede. Jadi sekiranya kena seperti kasus Jiwasraya ini, saya hanya dapat memukul kepala, “gobloknya gua.” sebab rupanya yang dimaksud risiko gede itu dapat saja segala hasil yang saya temukan bertahun-tahun melalui kerja, habis hanya dalam satu putaran meja sebab ambisi mendapatkan keuntungan besar dengan hanya ongkang ongkang kaki saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *